?

Log in

 

TITLE : Cause I’m a Vampire (Chaptered)

Fandom : ViViD and Alice Nine (Tora and Shou)

Language : Bahasa Indonesia

Genre : PG 13+ for violence

Warning : AU, OOC, slight boy and boy, inspired by PV 69-II by ViViD, RH Plus tv series and Neo Genesis vol. 44 back cover.

 [PROLOG]

[EPISODE ONE]

[EPISODE TWO]

 

Entah kenapa, dia tak terkejut saat melihat siapa yang duduk sendirian di ruang depan. Shin tersenyum dan berkata pelan—kata yang hampir tak pernah ia gunakan selama hampir sepuluh tahun. “Tadaima...”

 

 

Read more...Collapse )


TITLE : Cause I’m A Vampire (Chaptered)

Fandom : ViViD and Alice Nine (Tora and Shou)

Language : Bahasa Indonesia

Genre : General

Warning : AU, OOC, slight boy and boy, inspired by PV 69-II by ViViD, RH Plus tv series and Neo Genesis vol. 44 back cover.

[PROLOG]

[EPISODE ONE] Cause I’m a Vampire: First Day

 

Shin menggeliat. Dia tidak suka kalau matanya terkena cahaya. Maka dengan kesal dan bergumam-gumam tidak jelas, Shin menarik selimutnya lebih tinggi. Dia berguling dan bersiap tidur lagi ketika mendengar suara.

 

Want more?Collapse )
TITLE : Cause I’m a Vampire (Chaptered)
Fandom : ViViD and Alice Nine (Tora and Shou)
Language : Bahasa Indonesia
Genre : General
Warning : AU, OOC, inspired by PV 69-II by ViViD, RH Plus tv series and Neo Genesis vol. 44 back cover. (Wanna rewatching RH Plus. Does anyone has the tv series??)
Note: this fic dedicated to Mary and Suppi. Maaf ceritanya gajeh binti aneh bin garing. Happy reading. Comment are loves!



Langkahnya perlahan, antara ragu dan pasti. Sesekali tinjunya menghantam pelan tembok di sisi kanan jalan. Batinnya masih berdebat. Pergi kah? Atau tetap terkurung di sana?

 
Orang itu—kalau dia masih pantas disebut orang—tak sekali dua kali berkunjung ke gereja. Dan tak sekali dua kali Shin memergoki orang itu sedang menatapnya. Shin merasakan sensasi aneh setiap kali ia balas memandangnya. Sensasi campuran ngeri sekaligus nyaman. Entahlah. Sesungguhnya Shin sama sekali tak memahami arti dari kata nyaman.

 
Want more?Collapse )
 
TITLE : Noitcejni na (+ Hypodermic Syringe

Fandom : Dir en Grey

Language : Bahasa Indonesia

Genre : General

Warning : OOC, Sekuel dari Egnirys Cimredopyh +) an Injection. Gak tahu kenapa saya nulis fic ini, idenya muncul begitu saja. Don't like don't read. Comments are love!!


Noitcejni na (+ Hypodermic Syringe

Gerimis membasahi Tokyo. Menebarkan rasa dingin, membentuk suasana sendu. Shinya duduk di beranda apartemennya, menatap kota yang tampak suram sesuram suasana hatinya.

 

Hari ini kacau. Kyo sakaw.[click here for more]

Title                : MEMORY OF LOVE one shot)

Language     : Bahasa Indonesia

Fandom         : Alice Nine

Genre            : Angst, maybe. Friendship. Brotherhood. Something like that.

Rating             : Don’t know. But I think is not for children below 13 (bilang aja 13+, baka!)

Disclaimer     : The story is MINE, but the boys are (not) MINE. They’re belong to their fams and fans.

Warning         : a little bit sekuhara, OOC, AU. Sebenarnya Nao adalah member Alice Nine yang paling tua *tapi bermuka paling bocah* namun demi kepentingan cerita dia dibuat lebih muda daripada Shou dan Saga. Don't like don't read. Comments are love!

Summary       : Memiliki ingatan terkadang menyebalkan, namun tak memilikinya jauh lebih menyebalkan.

MEMORY OF LOVE

[ficlet] Alice Nine : Kimi no kaori dakara

Title : Kimi no kaori dakara

POV : Saga

Rating : NC
Language : Bahasa Indonesia

Base on : Twit bego Saga yang bilang kalo dia ga bisa tidur gara-gara kasurnya bau Tora (XD)

Author : Ogawa Sora *yang jatuh cinta (lagi) pada Alice Nine*

Note : Berambisi menulis fanfic Alice Nine sejak terpesona lagi dengan Hiroto. Berharap menulis fanfic Alice Nine dengan main character Hiroto. Bermimpi menulis fanfic Alice Nine yang berbobot dan bermakna. Tapi apa daya... ide yang keluar yang seperti ini. I’m going crazy right now! *kick Hiroto cs*

 

[Kimi no kaori dakara]

~_~

Saga baru saja merebahkan diri di kasurnya di hotel. Dia harus segera tidur. Besok pagi banyak yang harus dikerjakan : photoshoot, interview, briefing, dan LIVE.

 

Tapi Saga mencium sesuatu.

 

Bau yang sangat familiar.

 

Di kasurnya.

 

“Snif snif!” Saga menciumi bantal, seprai, selimut, setiap sudut tempat tidurnya.

 

Bau itu dikenalnya.

 

Bau parfum Tora.

 

Ah iya, tadi Tora kemari. Membicarakan sesuatu sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dia bahkan tertidur sebentar.

Saga mengangkat bahu. Lalu merebahkan tubuhnya lagi. Memangnya kenapa dengan bau parfum Tora? Dia sudah mencium bau itu sejak lama.

 

Tapi... tidak pernah di kasurnya.

 

 

Saga memejamkan mata, mencoba tidur. Tapi bau itu mengganggunya. Saga berguling gelisah di kasurnya. Setelah capek berguling-guling, ia mengambil ponselnya, membuka akun twitter-nya, membaca sebentar twitt dari orang-orang yang dia follow, kemudian menulis : Aku tak bisa tidur karena kasurku bau Tora.

 

Saga masih membaca beberapa twitt sambil menelungkup di kasur, ketika sesuatu menyentuh punggungnya. Tersentak, Saga membalik tubuhnya. Ia menemukan Tora berdiri di samping tempat tidurnya, menatapnya tajam.

 

“He? Sejak kapan kau...?” Saga melirik pintu yang tertutup. Rasanya tadi dia sudah mengunci pintu. “Apa? Kau mau apa?”

 

Tora tak menjawab. Ia membungkukkan tubuhnya ke arah Saga yang masih berbaring di kasur. Mata hitamnya masih menatap Saga dengan tajam.

 

“Oi! Kau melindur ya?” seru Saga sambil melambai-lambaikan tangan di depan wajah Tora.

 

Tora masih tak menjawab. Ia malah mengulurkan tangannya ke arah bagian depan piyama Saga. Membuka kancingnya satu per satu.

 

“Oi! Oi!” Saga berteriak kaget. Ia mencoba bangun dari posisinya. Tapi Tora menurunkan badannya, menekankan berat tubuhnya pada Saga, membuat Saga kembali berbaring di kasur. “Kau melindur ya?!”

Tora tak menggubris protes Saga. Satu tangannya masih sibuk membuka kancing piyama Saga. Tangan lainnya menjelajah, dari atas hingga bagian paling pribadi Saga. Bibirnya menekan leher Saga. Desah nafasnya terasa hangat di kulit Saga.

 

Saga tak berkutik. Ia sama sekali tak bisa bergerak karena dikunci sedemikian rupa oleh Tora. Lagipula Tora lebih berat darinya. Dia yakin seratus persen Tora melindur. Tapi, hei! Memangnya dia mimpi apa sampai berani menggerayangi Saga?!

 

“To-Tora...” panggil Saga. “Kalau kau tidak berhenti, aku teriak nih.”

 

Tora mengangkat kepalanya. Menatap Saga. Kemudian... menempelkan bibirnya pada bibir Saga. Membuat Saga tak bisa berteriak. Atau bernafas.

 

Saga memejamkan matanya. Dia harus membangunkan Tora sebelum sesuatu yang tak diinginkan terjadi. Tapi... hembusan nafas Tora di wajahnya, rasa lembut bibirnya, sentuhan tangannya... Saga terlena.

 

Dering ponsel mengagetkan Saga. Ia tersentak. Membuka matanya lebar-lebar. Tangannya panik mencari benda bernama telepon seluler. Ketika genggamannya meraih benda itu, Saga langsung meletakkannya di telinga, tanpa melihat siapa yang menelepon.

 

“Saga!! Mau tidur sampai kapan kau?!” suara Nao menggelegar terdengar di speaker ponsel dan dari balik pintu.

~_~

 

O.WA.RI

 

19 September 2010

21.58 WIB/ 23.58 WJ (Waktu Jepang)

Ogawa Sora (yang otaknya semakin gila)




Mwahahahahahaha!!! *ditiban Saga*

[fic]: Unnamed Story (one shot)

TITLE : Unnamed Story (one shot)

Language : Bahasa Indonesia

Genre : General

Note : Inspired by Taion PV by Dir en Grey. Don't like don't read. Comments are love!!

Unnamed Story

 

Douka hidoi yume dato kotaete  hoshii
Dore dake sakebi modae kurushimeba ii
Douka hidoi yume dato oshiete hoshii
Chigiresou na koe de nando mo sakenda

Please answer me it is a horrible dream.
How much should I shout, writhe and suffer?
Please tell me it is a horrible dream.
I shouted many times with losing voice

 

Dia masih seperti itu. Duduk di sana dengan ekspresi sengsara. Memeluk manekin tanpa kepala. Menatap kosong pada kehampaan. Dan aku masih seperti ini. Duduk di sebelahnya. Menatap iba tanpa tahu harus melakukan apa.

Perlahan, dengan kesadaran yang cuma setengahnya, ia sandarkan kepalanya di bahuku. Bergumam tanpa suara. Dan aku cuma mengelus rambutnya yang memutih.

Usianya baru 20 tahun. Kakak laki-lakiku satu-satunya. Dan ia kehilangan semangat hidupnya sejak tiga minggu yang lalu. Sejak kejadian mengerikan itu terjadi. Tepat di depan matanya. Dan mataku.

Ruangan putih. Denting piano yang memainkan sebuah lagu syahdu. Wangi mawar yang memenuhi udara. Beberapa orang yang hadir tersenyum bahagia. Terutama dia yang berdiri dengan anggun di atas altar.

Dengan baju berwarna putih yang cantik—yang katanya dirancang sendiri oleh sang mempelai wanita—Aniki tampak elegan. Senyum terus menghias wajahnya sepanjang pastor membacakan ikrar.

Hari ini Aniki menikah. Dengan seorang wanita yang dicintainya selama tiga tahun, wali kelasnya di SMA. Tak banyak yang hadir. Hanya empat orang sahabatnya dan aku, adik perempuannya.

Keluarga kedua pihak tak menyetujui pernikahan ini. Hubungan mereka ditentang sejak awal. Guru dan murid tak boleh menjalin kisah cinta, itu peraturannya. Tapi cinta adalah hak semua orang. Benar kan?

Meski orang tua masing-masing tak hadir, senyum tetap saja menghias wajah keduanya. Bagi mereka, hidup selanjutnya adalah milik mereka. Tak ada yang berhak menghalangi.

Wanita yang menjadi istrinya, menurutku tidak terlalu cantik, tapi ia memiliki aura yang membuat semua orang mencintainya. Dialah yang telah membuat Aniki yang pemalu merasa sangat nyaman bersamanya.

Ikrar selesai dibacakan. Aniki memasangkan cincin di jari manis istrinya. Istrinya melakukan hal yang sama padanya. Kemudian mereka berciuman. Dan, dadaku terasa sangat sakit.

“Aakh!” Jeritan tertahan itu mengembalikanku ke sofa tempatku duduk. Aniki mempererat pelukannya pada manekin tanpa kepala. Mengelus punggungnya dengan tangan gemetar.

Menatapnya, kukembangkan senyum pahitku. Tak seharusnya ia seperti ini. Ia tak boleh seperti ini. Kusentuh tangannya yang gemetar. Menggenggamnya erat. “Daijoubu...” bisikku. Dan getaran itu berkurang.

Tepuk tangan memenuhi gereja ketika mereka selesai berciuman. Tapi tepuk tangan itu terhenti ketika seorang pria mabuk masuk. Di tangannya tergenggam sebuah parang. Dan tanpa aba-aba ia menyerang semua orang.

Jeritan. Teriakan panik. Dan ketakutan memenuhi ruangan. Aniki menarik istrinya menjauh dari orang gila berparang itu. Ketika terpojok disimpannya wanita itu di balik tubuhnya. Dan ia menantang pria itu.

Teman-temannya berusaha menyingkirkan orang gila itu. Mereka memukulkan benda apa saja ke punggung pria itu. Tapi ia tak bergeming. Mengangkat parangnya dan mendorong Aniki ke samping. Pastor panik mencari bantuan.

Aku meringkuk di pojok gereja. Menyaksikan kejadian mengerikan itu. Aniki terpuruk di lantai. Tak mampu berdiri. Sepertinya ia dilempar sangat keras. Ia cuma bisa terkapar di lantai, menyaksikan istrinya dibantai.

Mereka tak sempat berbulan madu. Mereka tak sempat melewati hari pertama pernikahan mereka. Mereka tak sempat duduk bersama membicarakan masa depan. Keesokan harinya mereka bertemu di pemakaman.

Aniki masih memakai baju pernikahannya. Baju putih yang sudah ternoda darah di banyak tempat. Baju yang ia kenakan sampai detik ini. Tak ada air di kedua matanya. Sepertinya sudah kering karena semalaman ia terus meratap.

Kisah cinta mereka panjang dan berliku. Tak ada yang setuju dengan hubungan mereka, kecuali empat sahabatnya dan adik perempuannya. Mereka terus berjuang meski dicecar. Tapi harus berakhir semenyedihkan ini.

Orang tua wanita itu marah besar. Katanya, kalau saja mereka berhenti saling mencintai peristiwa mengerikan itu tak kan terjadi. Katanya, semua salah Aniki. Kalau saja ia tak mengajak putri mereka menikah dengannya...

“Sebenarnya siapa yang paling sedih?!” kataku. Kuperlihatkan Aniki yang sedang membanting dirinya ke dinding sambil menjerit menyakitkan, memanggil nama istrinya. Dan dua orang itu terpaku menatapnya.

Papa, sejak dahulu tak akrab dengan Aniki. Mereka selalu saja berselisih jalan. Mereka selalu bertentangan. Mereka jarang menyapa. Dan ketika Aniki menjalin hubungan terlarang itu, mereka semakin tidak akrab.

Tapi, saat dilihatnya putra sulungnya sangat menderita kebapakannya tersentuh. Ia tanggalkan semua keegoisannya, gengsi, dan superioritasnya. Dengan sepenuh hati ia mencoba menolong putranya yang selama bertahun-tahun dimusuhinya.

Seperti saat ini. Tiba-tiba saja Aniki mengamuk. Kasar, ia mendorongku. Lalu membanting manekin yang sejak tadi dipeluknya. Memukul-mukulnya dengan tinjunya yang berdarah. Jeritan menyayat hati keluar dari tenggorokannya.

Papa tergopoh-gopoh keluar dari ruang kerjanya. Diikuti Mama yang menatap panik. Sigap, dipeluknya Aniki. Aniki menolak. Selama beberapa saat mereka bergumul. Aku dan Mama cuma bisa menatap prihatin.

Menit-menit berlalu dalam pergulatan. Aniki terus memukul, menendang, dan mencakar. Juga menjerit tiada henti. Kemudian tertidur karena lelah. Papa membaringkannya di sofa.

Dia kotor. Dia berantakan. Rambut hitamnya memutih karena stres dan depresi. Baju putihnya sudah tak berbentuk. Warna putihnya sudah ternoda merahnya darah dan hitamnya debu.

Papa pernah memaksanya mengganti baju. Dan apa yang terjadi? Ia mengamuk. Memukul-mukul dan membanting dirinya. Berteriak, antara marah dan sedih. Dan kami tak pernah melakukannya lagi.

Perlahan kuhampiri ia yang tertidur. Wajahnya kaku. Tak ada kedamaian di wajah tampannya. Beberapa kerutan terjalin di bawah kelopak matanya dan ujung bibirnya. Padahal ia masih sangat muda.

Sesekali ia mengigau. Mengangkat tangannya sembari menyebut nama istrinya. Kusambut telapaknya yang teracung ke udara. Mencoba memberi tahu bahwa ia tak sendiri. Bahwa ia masih memilikiku.

Tapi rupanya ia hapal genggaman istrinya. Meski tangannya kugenggam erat ia masih juga memanggil istrinya. Berkali-kali. Dan dadaku terasa sakit. Sakit yang amat sangat. Kenapa?

Padahal aku tak menginginkan hal seperti ini. Padahal aku cuma ingin ia kembali padaku. Padahal... Aku tak bermaksud membuatnya semenderita ini. Aku tak bermaksud... Aku tak tahu cintanya pada wanita itu sangat besar.

Aku tak tahu ia akan seterpukul ini kehilangan wanita itu. Aku cuma ingin memisahkan mereka. Aku tak suka wanita itu membawanya. Karena Aniki milikku. Milikku satu-satunya. Dulu, sekarang, dan sampai kapan pun.

Kupikir, ia cuma akan berkabung selama beberapa saat. Kemudian kembali seperti biasa, menjadi Aniki pemalu yang kukenal. Bukan yang seperti ini yang kuinginkan. Bukan Aniki yang kehilangan dirinya yang kuinginkan.

Perlahan kubelai rambut putihnya yang berantakan. Kau milikku. Sampai kapan pun akan tetap jadi milikku. Karenanya, lupakan wanita itu dan lihatlah aku. Aku selalu di sini, menemanimu. Perlahan kuletakkan kepalaku di dadanya.

“Aniki... Kau milikku... Selalu... Selamanya...”

End

Ogawa Sora
23 July 2007

TITLE : Egnirys Cimredopyh +) an Injection

Fandom : Dir en Grey

Language : Bahasa Indonesia

Genre : General

Warning : OOC, Inspired by Egnirys Cimredopyh +) an Injection. Gak tahu kenapa saya nulis fic ini, idenya muncul begitu saja. Don't like don't read. Comments are love!!


Egnirys Cimredopyh +) an Injection

kamisama dou ka tasukete ima sugu ni nukedashitakute
ima sugu ni inochi wo tatte awarena kono mi wo tsurushite

shi . ro . i . ko . na . onaka dashitai hane ga haete yuku Psycho no yoru
shi . ro . i . ko . na . onaka dashitai psycho no tsukiyo to romanticist

[Please god save me, I wanna put an end to it
             put an end to my life right away, and hang my pitiful body.

Whi.te.pow.der, expose my naked belly, the psycho night when wings      develop.
 whi.te.pow.der, expose my naked belly, the psycho moonlit night and the  romanticist]

Untuk yang kesekian kalinya benda runcing itu memasuki tubuhnya. Mengalirkan cairan bening ke dalam darah yang melaju di pembuluh nadinya. Dan untuk yang kesekian kalinya ia merasakan nikmat yang luar biasa, merasakan suatu sensasi yang membuatnya larut.

Kyo menarik nafas perlahan bersamaan dengan ditarik keluarnya mili demi mili darah dari venanya ke dalam tabung suntik. Dan ketika darah-darah itu kembali memasuki vena ia menghembuskan nafas dengan nikmat, dengan desahan. Lagi, ia mengulanginya, menarik darahnya lalu memasukkannya kembali. Membuat heroin tercampur sempurna dalam cairan merah yang mengalir di tubuhnya.

Setelah lima menit bermain dengan darahnya, Kyo mulai merasa fly. Ia berbaring di lantai dalam posisi yang menurutnya nyaman. Matanya terpejam, satu tangannya mengelus dada dan giginya menjepit telunjuk tangan yang satunya. Ada desahan dan erangan, sesekali ia menjerit tertahan. Kyo benar-benar ‘terbang’.

Shinya membuka pintu. Ia berdiri kaku di ambang pintu, menatap sendu ke dalam ruangan, ke tubuh Kyo yang tergolek di lantai. Untuk yang kesekian kali Shinya menemukan vokalis band-nya dalam keadaan mengkhawatirkan seperti itu. Sudah setengah tahun Kyo kecanduan heroin. Dan selama setengah tahun itu band berusaha melepaskan Kyo dari barang haramnya namun tak berhasil.

Shinya memasuki kamar Kyo dan berjongkok di sampingnya. Perlahan dibelainya rambut Kyo yang dicat pirang. Wajah Kyo penuh keringat. Dengan lembut Shinya menyekanya, bersama senyum sedih yang tak pernah lepas dari wajahnya setiap kali ia menatap Kyo.

Naze, Kyo, naze?” gumam Shinya. Selalu, pertanyaan itu selalu dilontarkan baik oleh Shinya maupun member yang lain, bahkan oleh Kyo sendiri. Tak ada yang memahami kenapa Kyo begitu tergantung pada bubuk putih itu. Tak ada. Kyo sendiri pun tidak memahaminya. Yang ia pahami cuma satu, bahwa bubuk putih itu membuatnya nyaman, untuk sementara. Membuatnya melupakan segala masalah hidup, segala beban yang menyesakkan. Untuk sementara. Ya, untuk sementara. Selama efeknya masih bekerja.

Shinya menatap sedih pada sebuah alat suntik yang tergeletak tak jauh dari tubuh Kyo. Itu cuma satu dari sekian koleksi hypodermic syringe Kyo. Diraihnya benda itu, ditatapnya ujungnya yang runcing. Sudah berapa kali benda ini melubangi tubuh Kyo? Bukan cuma di lipatan siku, tempat biasa memasukkan alat suntik, tapi juga di pergelangan tangan, perut, leher, dan semua tempat di mana nadi bisa dijangkau.

Sebuah botol bening menggelinding pelan tertiup angin yang masuk lewat jendela. Shinya mengambilnya, membuka tutupnya, dan mencium bau yang menyengat. Alkohol. Rupanya bubuk heroin itu dicampur dengan alkohol sebelum dimasukkan ke dalam tubuh. Shinya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil meringis ngeri.

Angin ternyata membuat Kyo menggigil. Tubuh mungilnya yang kurus tampak bergetar. Shinya berdiri, menarik selimut dari atas ranjang dan menyampirkannya ke atas tubuh Kyo. Kyo masih tak sadarkan diri.

“Kenapa kau harus seperti ini, Kyo? Dulu kau bisa menjalani hidupmu yang berat dengan baik-baik saja. Kenapa sekarang, ketika kesuksesan mulai menyapamu, kau malah menghancurkan dirimu? Jawab aku, kenapa harus seperti ini, Kyo?” Shinya bertanya pelan. Tapi tak ada jawaban dari Kyo selain erangan yang terputus-putus. Tanpa sadar, setetes bening mengalir turun ke pipi Shinya. 

“Shin?” Die memasuki ruangan. Ia terpaku begitu melihat Shinya menangis. “Shin?”

Shinya menyeka air matanya. “Daijoubu,” katanya serak. “Aku tak bermaksud menangis hanya saja—“ Kalimat Shinya terputus, ia tercekat. “Aku tak mengerti kenapa harus seperti ini, maksudku, kenapa Kyo... Ha~ bertanya berapa kali pun percuma...”

Die menghampiri Shinya. Merangkul sang drummer dengan lembut.

“Die, aku benar-benar tidak mengerti...”

“Aku juga tidak...”

“Kenapa...kenapa...” Shinya mulai menangis lagi. “Kyo... dia...dia...dulu dia baik-baik saja. Dia tak pernah seperti ini! Dia selalu jujur. Dia marah, dia sedih, senang, apa pun selalu diungkapkannya. Dia tak pernah lari. Tidak pernah. Tapi kenapa sekarang...”

“Sshh...! Shin, aku mengerti perasaanmu tapi kumohon jangan menangis. Kyo akan kembali seperti dulu. Asal kita tidak menyerah. Dia sahabat kita. Iya kan, Kaoru?”

Kaoru yang berdiri di depan kamar tersenyum pahit. “Ya!” ucapnya tercekat tapi mencoba terdengar yakin. “Bagaimana pun caranya kita akan membawa Kyo pulang. Kita tak akan menyerah. Tak boleh menyerah. Karena dia vokalis satu-satunya yang paling kuhormati.”

“Kyo?” panggil Toshiya yang berjongkok di samping tubuh Kyo. “Kau sudah sadar?”

Kyo membuka matanya perlahan. Ada air di kedua bolanya. “Gomen...” lirih Kyo. “Aku...”

“Sssh... sebaiknya kau istirahat saja,” ucap Toshiya.

“Kubantu kau naik ke tempat tidur,” kata Kaoru.

“Di sini saja,” Kyo menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya lalu memeluk dirinya, meringkuk sembari merapatkan tubuh ke dinding.

“Ku-kubuatkan sesuatu yang membuatmu tenang ya?” ucap Shinya lalu pergi ke dapur tanpa menunggu jawaban Kyo. Toshiya mengikutinya. 

Kamisama doukatasukete ima sugu ni nukedashitakute
ima sugu ni inochi wo tatte awarena kono mi wo tsurushite

[Please god save me, I wanna put an end to it,
 put an end to my life right way, and hang my pitiful body]

 

o.w.a.r.i